Contoh CV UI/UX designer
Melamar ke posisi UI/UX designer biasanya mengharuskan kandidat untuk menampilkan keterampilan yang dicari perusahaan, mulai dari pembuatan wireframe, kolaborasi lintas fungsi, dan empati terhadap pengalaman pengguna. Untuk meningkatkan peluang diterima, pastikan CV Anda benar-benar menampilkan keterampilan dan pengalaman Anda secara jelas dan menarik. Nah, artikel ini akan mengulas cara menyusun CV UI/UX designer yang mampu menarik perhatian rekruter, disertai tips dan contoh untuk membantu Anda saat menyusunnya sendiri.
Membuat CV yang mampu menonjolkan skill dan pengalaman memang perlu strategi yang tepat dan upaya lebih. CV yang disusun dengan baik bisa jadi kunci utama menuju tahap rekrutmen berikutnya. Nah, mari mulai dengan membahas bagian-bagian utama dalam CV untuk melamar posisi UI/UX designer.
Struktur dan Format CV UI/UX designer
Baik melamar sebagai fresh graduate atau berpengalaman, struktur CV umumnya sama. Yang penting, Anda mampu menunjukkan keterampilan utama untuk menjadi seorang UI/UX designer profesional.
CV entry-level umumnya digunakan oleh lulusan baru atau pelamar magang yang belum memiliki banyak pengalaman kerja formal. Tonjolkan bagian-bagian lain seperti skill, pelatihan, pengalaman organisasi dan relawan, atau aktivitas lain di CV UI/UX designer yang tetap bisa menunjukkan skill dan potensi Anda.

Profesional level menengah sudah bisa mulai menunjukkan pengalaman kerja dan kontribusinya pada pekerjaan sebelumnya di dalam CV. Selalu utamakan pengalaman kerja yang relevan dengan posisi UI/UX designer yang Anda lamar agar meningkatkan peluang keberhasilan.

Di level senior, CV UI/UX designer harus menunjukkan bahwa Anda bukan hanya pernah bekerja, tapi juga memberi dampak nyata dan punya potensi menjadi pemimpin. Jelaskan pencapaian Anda dengan angka dan tunjukkan keterampilan kepemimpinan. CV perlu memperlihatkan bahwa Anda mampu mengelola tim atau proyek strategis.

Meskipun isi CV bisa berbeda-beda, Anda bisa menggunakan bagian-bagian berikut yang secara umum banyak digunakan di Indonesia.
Header CV UI/UX Designer
Header CV adalah bagian yang mencakup informasi pribadi dasar yang memperkenalkan identitas Anda pada perekrut, seperti nama, email, dan kontak yang bisa dihubungi. Tanpa informasi kontak yang jelas, rekruter tidak akan tahu siapa Anda dan bagaimana cara menghubungi Anda lebih lanjut.
Agar bagian header CV UI/UX designer milik Anda terlihat profesional, gunakan email yang formal, periksa kembali nomor dan email Anda, serta tambahkan LinkedIn untuk menampilkan rekam jejak lebih lengkap.
Agus Rusdi
agus-rusdi@example.com
(111) 222 33 444 55
Jl. M.H. Thamrin No.10 RT 05/RW 02, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350
linkedin․com/in/agus–rusdi–123
Deskripsi Diri
Bagian deskripsi diri sering muncul dengan berbagai judul lain seperti Profil Diri, Rangkuman, atau Tentang Saya. Gunakan bagian ini untuk mengesankan rekruter dengan menunjukkan siapa Anda, kelebihan dan kualifikasi, serta alasan mengapa Anda cocok untuk posisi tersebut. Sertakan kata kunci yang selaras dengan deskripsi lowongan kerja.
Selain informasi utama seperti pengalaman dan pendidikan, menambahkan objektif karier di CV bisa jadi poin plus. Rekruter dapat melihat bahwa Anda punya rencana karier jelas yang sejalan dengan posisi yang dilamar.
Deskripsi diri di CV UI/UX designer yang menarik perhatian rekruter adalah yang selaras dengan jobdesc dan mampu menyoroti keahlian utama yang dibutuhkan. Tambahkan juga pencapaian nyata yang bisa diukur, seperti data angka atau penghargaan, agar lebih meyakinkan. Anda dapat perhatikan contoh deksripsi diri yang menarik di bawah ini.
Contoh yang baik:
Desainer UI/UX berpengalaman dengan latar belakang S1 Desain Komunikasi Visual. Pernah memimpin tim untuk meningkatkan retensi pengguna sebesar 25% dalam 6 bulan. Terbiasa merancang antarmuka intuitif, responsif, dan berbasis riset pengguna.
Contoh yang salah:
Desainer UI/UX dengan latar belakang S1 Desain Komunikasi Visual yang terbiasa merancang antarmuka intuitif dan responsif berbasis riset pengguna, berkomitmen tinggi, serta memiliki pengalaman bekerja di berbagai proyek lintas bidang.
Deskripsi diri yang optimal sebaiknya menghindari istilah umum tanpa bukti, karena rekruter lebih tertarik pada pencapaian dan skill yang konkret.
Pengalaman Kerja
pengalaman kerja di CV penting untuk menunjukkan keterampilan nyata Anda di dunia kerja. Semua bentuk pengalaman kerja yang pernah Anda jalani, termasuk full time, part time, freelance, hingga magang, perlu dicantumkan. Pengalaman kerja yang paling baru umumnya lebih menggambarkan kemampuan Anda saat ini. Oleh karena itu, susun riwayat kerja dari yang terbaru dan relevan, serta tekankan skill atau pengetahuan yang dicari di lowongan UI/UX designer.
Untuk membuat CV lebih menarik, jabarkan jobdesc dan hasil nyata yang Anda capai. Cobalah menggunakan angka seperti “meningkatkan penjualan 20%” untuk menggambarkan pencapaian. Sebaiknya, gunakan bullet point agar lebih mudah dibaca.
CV yang berpeluang lolos biasanya terdapat pengalaman kerja yang tidak hanya menjelaskan tugas harian, tapi juga kontribusi nyata dan hasil kerja yang terukur. Jangan lupa cek kembali lowongan kerja dan sematkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Yuk, simak contoh pengalaman kerja yang ditulis dengan baik dan efektif di dalam CV UI/UX designer berikut ini.
Contoh yang baik:
Desainer UI/UX Senior, Januari 2023 - Sekarang
PT Kreasi Digital Nusantara, Bandung
- Merancang antarmuka aplikasi mobile e-commerce yang meningkatkan tingkat konversi sebesar 25% dalam 3 bulan.
- Mengembangkan sistem desain terpadu untuk platform web yang mempercepat waktu pengembangan fitur hingga 40%.
- Melakukan uji kegunaan terstruktur dan iterasi desain yang meningkatkan kepuasan pengguna hingga skor NPS 30 poin.
Contoh yang salah:
Desainer UI/UX Senior, Januari 2023 - Sekarang
PT Kreasi Digital Nusantara, Bandung
- Mendesain antarmuka pengguna untuk meningkatkan engagement dan kepuasan klien.
- Mengembangkan prototipe wireframe berdasarkan kebutuhan bisnis tanpa batasan waktu tertentu.
- Mengkoordinasikan diskusi dengan pemangku kepentingan untuk menyelaraskan visi produk dan desain.
Contoh di atas juga memperlihatkan penulisan pengalaman kerja yang kurang efektif karena tidak menonjolkan nilai tambah Anda. Deskripsinya tidak mampu menjelaskan apa kontribusi yang Anda berikan dan tidak menyertakan bukti nyata berupa angka atau hasil kerja.
Pendidikan
Bagian pendidikan dalam CV menampilkan latar belakang akademis Anda, dan menunjukkan bahwa Anda telah memenuhi standar tertentu untuk menyelesaikan pendidikan.
Posisi UI/UX designer umumnya memerlukan kandidat dengan gelar sarjana di bidang yang spesifik. Posisi ini berbeda dengan pekerjaan lain yang dapat dilamar oleh lulusan dari berbagai jurusan. Kandidat yang memiliki gelar pendidikan, atau pelatihan yang menunjukkan keterampilan relevan seperti pembuatan wireframe dan pembuatan prototipe, berpeluang lebih besar dilirik oleh rekruter.
Gunakan urutan kronologi terbalik, dengan pendidikan paling akhir dituliskan terlebih dahulu. Sertakan informasi penting seperti nama sekolah atau perguruan tinggi, jurusan, gelar, IPK atau nilai, serta periode studi. Anda juga dapat menambahkan mata pelajaran relevan, prestasi, atau penghargaan akademis.
Apabila masih tersedia ruang, sajikan prestasi tersebut dalam bentuk bullet points agar lebih mudah terlihat dan dibaca oleh rekruter.
S1 Desain Komunikasi Visual, 2018 - 2021
Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat
Keterampilan
Perusahaan biasanya mencari kandidat dengan skill seperti arsitektur informasi dan kolaborasi lintas fungsi, terutama untuk posisi UI/UX designer, karena keduanya termasuk skill dalam CV yang dinilai penting. Dua jenis skill yang harus tercantum dalam CV adalah hard skill dan soft skill. Apa perbedaan antara keduanya serta seperti apa contohnya? Ini dia penjelasannya.
Hard Skills
Hard skill adalah kemampuan teknis yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjan. Tiap pekerjaan memerlukan hard skill yang berbeda-beda, tapi umumnya kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan software, tools, atau metode tertentu. Sebaiknya hindari mencantumkan hard skill yang terlalu umum. Fokus pada skill yang benar-benar dibutuhkan di posisi UI/UX designer yang Anda lamar, terutama jika posisi tersebut sudah di level senior. Sebenarnya, mencantumkan 3-5 hard skill saja sudah cukup, tapi sesuaikan juga dengan detail lowongan kerja. Letaknya biasanya setelah bagian pengalaman kerja untuk memperkuat relevansi keduanya.
Hard skill yang paling relevan dengan industri desain dan posisi yang dilamar berpotensi menjadi yang paling menarik bagi HRD. Pastikan Anda mencantumkan yang sesuai kebutuhan perusahaan.
Nah, berikt ini adalah beberapa hard skill yang banyak dicari untuk menjadi seorang UI/UX designer.
- Riset pengguna
- Arsitektur informasi
- Pembuatan wireframe
Soft Skills
Soft skill adalah keterampilan non-teknis seperti keterampilan interpersonal dan kepribadian diri yang membantu Anda berinteraksi sebagai seorang UI/UX designer dengan rekan kerja lain. Soft skills akan menunjang keterampilan teknis Anda, dan menjadi indikator bagaimana Anda bisa bekerja sama dalam tim dan mengatasi berbagai tekanan.
Layaknya hard skill, soft skill yang Anda cantumkan di CV bisa memukau HR jika memang sesuai dengan yang mereka cari. Itulah kenapa menuliskan soft skill yang sesuai dengan informasi pada lowongan kerja sangatlah penting.
Ini dia beberapa contoh soft skill yang umum dicari untuk peran UI/UX designer.
- Empati terhadap pengalaman pengguna
- Komunikasi efektif dalam tim
- Kolaborasi lintas fungsi
Kemampuan Bahasa
Mencantumkan bahasa di CV sangatlah dianjurkan, bahkan jika pekerjaan Anda tidak berhubungan langsung dengan penerjemahan. Ini sudah menjadi kebutuhan dasar dunia kerja, termasuk untuk posisi seorang UI/UX designer. Kemampuan bahasa juga menjadi sinyal positif bahwa Anda mampu beradaptasi dan bekerja sama dengan lingkungan kerja internasional dan multikultural.
Salah satu cara efektif dalam menampilkan keahlian bahasa asing di CV adalah dengan menjabarkannya secara deskriptif, misalnya:
- Bahasa Inggris: Lancar
- Bahasa Spanyol: Menengah
Anda juga dapat mempertimbangkan pencantuman standar internasional, seperti Common European Framework of Reference (CEFR), untuk menuliskan kemampuan bahasa asing. Jika menggunakan standar ini, kemampuan bahasa Anda dikategorikan menjadi:
- A1: Beginner
- A2: Elementary
- B1: Intermediate
- B2: Upper intermediate
- C1: Advanced
- C2: Proficiency
Sertifikasi, Kursus, dan Lisensi
Sertifikasi maupun lisensi merupakan indikator bahwa Anda telah memiliki keahlian sebagai seorang UI/UX designer sesuai standar tertentu, dan telah melalui proses pelatihan atau pendidikan yang diakui. Dengan mencantumkan sertifikasi dalam CV, Anda menunjukkan bahwa Anda telah melalui serangkaian tes & proses dan siap menjalankan peran secara profesional di bidang desain. Utamakan sertifikasi yang masih berkaitan dengan posisi yang Anda lamar, agar lebih meyakinkan di mata rekruter.
Nah, berikut adalah beberapa contoh sertifikasi yang relevan untuk posisi UI/UX designer plus cara menulisnya.
- Google UX Design Certificate, 2023
- NN/g UX Certification, 2023
- Interaction Design Foundation Certificate, 2023
Tips Ahli:
Menurut panduan LLDIKTI, gunakan format yang rapi dan profesional untuk menampilkan pencapaian terukur dalam CV yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan. (1)
Bagian Pendukung Lainnya
Selain elemen wajib dalam CV, Anda bisa menyisipkan informasi pendukung yang dapat menjadi nilai tambah di mata perekrut. Hanya saja, pastikan bagian-bagian berikut ini memang relevan dengan posisi yang Anda incar atau ketika memang masih ada ruang dalam CV Anda.
Hobi dan Minat
Jika ditulis dengan tepat, hobi di CV dapat menjadi nilai tambah Anda, khususnya jika ada hubungannya dengan keterampilan yang dibutuhkan di industri desain. Jika Anda melamar ke lowongan magang dan belum memiliki pengalaman kerja, mencantumkan hobi yang relevan sangatlah disarankan. Namun, jangan asal tulis, ya. Hindari menyebutkan hobi di CV UI/UX designer yang terlalu umum, tidak berkaitan, atau tidak mencerminkan sisi profesional Anda.
Prestasi dan Penghargaan
Prestasi dan penghargaan sebaiknya ditampilkan dalam bagian khusus di CV agar lebih mudah menarik perhatian rekruter. Kalau Anda membuat CV di Jobseeker, ada fitur khusus yang bisa menonjolkan bagian ini, lho! Informasi ini bisa menjadi pembeda karena menunjukkan kelebihan yang tidak dimiliki semua orang, baik dari masa pendidikan Anda maupun pengalaman kerja.
Volunteer
Volunteer dalam CV menunjukkan bahwa Anda tidak hanya aktif dan berinisiatif, tapi juga seorang UI/UX designer yang peduli terhadap sesama. Ini bisa jadi daya tarik tersendiri di mata perusahaan. Tulislah bagian ini seperti pengalaman profesional, dengan menyebutkan posisi, organisasi tempat Anda berkontribusi, durasinya, dan tanggung jawab utama.
Temuan Data:
Saat melihat CV, sebanyak 82% HR langsung melihat ke bagian pengalaman kerja. Utamakan deskripsi pengalaman dan pencapaian terbaik dan paling sesuai dengan apa yang dicari perusahaan. (2)
Kata Kerja Profesional untuk CV UI/UX Designer
Kata kerja yang tepat di dalam CV UI/UX designer dapat membuat pengalaman kerja Anda terdengar lebih konkret dan berkesan bagi rekruter. Jobdesc yang sebelumnya terkesan biasa saja, bisa dibuat menjadi lebih profesional dan berdampak. Hindari penggunaan kata kerja yang kurang menggambarkan kontribusi, seperti "Bertanggung jawab atas". Ganti dengan merancang, menguji, atau kata kerja lainnya yang direkomendasikan berikut ini.
- Merancang
- Mendesain
- Menguji
- Menganalisis
- Mengoptimalkan
- Mengembangkan
- Memvisualisasikan
- Berkolaborasi
- Menyesuaikan
- Menghadirkan
Contoh CV UI/UX Designer
Kita telah mempelajari seluruh elemen penting dari CV UI/UX designer, mulai dari definisi hingga langkah penulisannya satu per satu. Mari lihat contoh lengkap CV berikut ini. Contoh ini bisa Anda jadikan inspirasi untuk menyusun CV yang menarik perhatian rekruter.
Jl. M.H. Thamrin No.10 RT 05/RW 02, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350
•
agus-rusdi@example.com
•
(111) 222 33 444 55
•
linkedin․com/in/agus–rusdi–123
Desainer UI/UX berpengalaman tiga tahun, lulus Sarjana Desain Komunikasi Visual. Meningkatkan retensi pengguna sebesar 25% dan konversi checkout 15% pada aplikasi e-commerce. Terampil dalam Figma, prototyping, dan penelitian UX.
Spesialis Desain UI/UX
2023
-2026
PT Solusi UI/UX Nusantara (Surabaya)
- Merancang prototipe interaktif untuk aplikasi e-commerce sehingga meningkatkan konversi 25% dalam 3 bulan.
- Mengoptimalkan navigasi aplikasi mobile sehingga waktu tugas pengguna berkurang rata-rata 40% dan kepuasan meningkat.
- Memimpin riset pengguna untuk platform fintech sehingga umpan balik negatif turun 50% dan tingkat keterlibatan naik signifikan.
Sarjana Desain Komunikasi Visual
2018
-2021
Universitas Indonesia (Depok)
Riset pengguna
Arsitektur informasi
Pembuatan wireframe
Empati terhadap pengalaman pengguna
Komunikasi efektif dalam tim
Kolaborasi lintas fungsi
Google UX Design Certificate
NN/g UX Certification
Bahasa Indonesia - Penutur asli
Bahasa Inggris - Tingkat lanjutan
Jika Anda punya banyak pengalaman namun ingin memaksimalkannya dalam 1 halaman, lihat contoh CV profesional kami untuk inspirasi.
Tips Membuat CV yang Menarik Perhatian Rekruter
Hal-hal yang perlu dilakukan:
- Sesuaikan CV dengan posisi UI/UX designer, tulis pengalaman & keahlian yang sesuai dengan info loker.
- Gunakan format CV yang rapi dan konsisten, ini akan memudahkan rekruter membaca isi dokumen Anda.
- Buat CV seefisien mungkin. Langsung ke poin penting tanpa banyak basa-basi informasi yang tak perlu.
- Mulai CV Anda dengan ringkasan singkat tentang diri Anda, menggambarkan kualifikasi utama yang dimiliki.
- Tulis pencapaian dalam angka, agar pencapaian Anda lebih mudah dibaca, dinilai, dan diukur oleh rekruter.
Yang kurang direkomendasikan:
- Jangan berbohong. Mengarang pengalaman kerja bisa menghancurkan kepercayaan rekruter.
- Jangan gunakan email yang tidak profesional. Gunakan email dengan nama lengkap atau nama asli.
- Jangan tulis hobi yang tak ada hubungannya denagn UI/UX designer, pilih hobi yang bisa mendukung citra profesional Anda.
- Hindari mencantumkan informasi sensitif seperti status menikah atau agama dalam CV Anda.
- Jangan gunakan desain atau hiasan berlebihan. Lebih baik CV simpel yang lolos ATS daripada tidak terbaca.
Cara Membuat CV UI/UX Designer ATS-friendly
ATS atau Applicant Tracking System adalah alat bantu perusahaan dalam memproses CV secara otomatis sebelum diberikan ke bagian rekrutmen. Sistem ini menilai CV dengan mencocokkan kata kunci dari lowongan dengan data pelamar seperti pengalaman kerja, latar belakang pendidikan, dan skill.
CV yang tidak sesuai biasanya langsung tereliminasi. Untuk menghindari hal tersebut, perhatikan tips membuat CV UI/UX designer ATS-friendly di bawah ini.
- Buatlah CV dengan format yang simpel dan terstruktur. Hindari penggunaan tabel, elemen visual, foto, atau desain rumit karena ATS hanya membaca teks.
- Gunakan jenis huruf standar seperti Arial, Calibri, atau Times New Roman agar sistem bisa membacanya dengan mudah. Font yang terlalu unik bisa membuat CV tak terbaca.
- Perhatikan kata kunci dalam lowongan kerja UI/UX designer dan sesuaikan dengan isi CV Anda, terutama bagian pengalaman dan kemampuan.
- Simpan CV Anda dalam format .pdf atau .docx agar kompatibel dengan sistem pelacakan.
- Gunakan struktur CV yang logis dan konsisten, dengan judul atau subheading yang mudah dikenali sistem, seperti Pengalaman Kerja, Keterampilan, atau Riwayat Pendidikan.
Jika membuat CV ATS terasa rumit, coba gunakan template CV dari Jobseeker yang bisa membantu Anda menyusunnya lebih cepat dan praktis!
Kunci Keberhasilan Saat Membuat CV UI/UX Designer
Kesuksesan melamar kerja sebagai seorang UI/UX designer sangat dipengaruhi oleh kualitas CV yang Anda buat. Pilih format yang tepat, gunakan kata kunci relevan, dan pastikan CV mudah dipindai oleh sistem ATS.
Agar proses membuat CV lebih cepat dan praktis, Jobseeker menyediakan tools khusus dengan berbagai pilihan template profesional. Langsung coba, yuk!
FAQ
Bagaimana cara membuat surat lamaran kerja untuk posisi UI/UX designer?
Surat lamaran kerja adalah pelengkap penting yang dapat menarik minat HRD untuk membaca CV Anda lebih lanjut. Oleh sebab itu, buatlah surat lamaran yang relevan dengan posisi yang Anda lamar, bukan sekadar salin-tempel dari surat sebelumnya.
Gunakan format tiga bagian untuk surat lamaran kerja UI/UX designer: pembuka (perkenalan), isi (pengalaman dan pencapaian), dan penutup (ajakan untuk tindak lanjut atau komunikasi lebih lanjut).
Jelajahi berbagai contoh surat lamaran kerja dari Jobseeker sebagai referensi untuk menyusun surat yang menarik dan profesional.
Untuk hasil yang lebih maksimal, gunakan juga template surat lamaran kerja agar berkas lamaran Anda lebih profesional dan menarik.
Bagaimana cara membuat CV UI/UX designer tanpa pengalaman kerja?
Isi CV tanpa pengalaman kerja bisa difokuskan pada latar belakang pendidikan, hard skill, soft skill, serta aktivitas di luar kelas seperti organisasi dan magang.
Pada bagian deskripsi singkat tentang diri Anda, tunjukkan semangat belajar, ketertarikan di bidang tertentu, dan kelebihan Anda.
Semua bagian ini akan membantu rekruter melihat bahwa Anda punya potensi dan keterampilan yang relevan dengan posisi UI/UX designer yang layak dipertimbangkan.
Bagaimana cara membuat headline untuk CV UI/UX designer yang menarik?
Headline CV adalah kalimat singkat yang menjelaskan siapa Anda secara profesional dan mengapa Anda cocok untuk posisi yang dilamar.
Menulis "fresh graduate" atau "jobseeker" saja tidak cukup untuk menarik perhatian HRD karena kurang spesifik. Tampilkan pendidikan, pengalaman, dan level profesional Anda agar lebih standout.
Pastikan headline singkat dan padat, sekitar 4-5 kata sudah cukup.
Berikut beberapa contoh headline CV UI/UX designer yang disesuaikan dengan level pengalaman kerja:
- Desainer UI/UX Tingkat Awal
- Senior UI/UX Designer Berpengalaman
- Senior UI/UX Desainer Berpengalaman Profesional
Seperti apa format CV UI/UX designer terbaik pada 2026?
Tiga format CV UI/UX designer yang masih relevan di 2026 adalah: kronologis (berbasis pengalaman), fungsional (berbasis keterampilan), dan kombinasi dari keduanya.
Bagi yang punya riwayat kerja kuat, kronologis sangat ideal, sementara fungsional cocok untuk karier baru atau pengalaman terbatas, dan kombinasi untuk menonjolkan dua aspek sekaligus.
Saat memilih format, pastikan Anda mempertimbangkan posisi yang dituju serta tingkat pengalaman agar CV Anda tampil lebih relevan dan strategis.
Referensi:
- LLDIKTI Region V, Kiat Membuat CV dan Resume sebagai Bekal Meraih Karier Impian
- Jobseeker, Tren & Statistik HR
Buat rekruter terkesan dengan CV Anda.
Panduan langkah demi langkah untuk membuat CV profesional dalam hitungan menit.
